Rabu, 25 Juli 2012

Tips- tips mengatasi "lemas" saat berpuasa.

Puasa adalah salah satu rukun islam yang diwajibkan bagi umat muslim. Mereka yang sudah baligh wajib menunaikan ibadah ini. Berikut ini adalah beberapa tips untuk mengatasi lemas saat puasa:
1. Selalu sahur dan usahakan makanan sahur tersebut memenuhi standar gizi yang cukup.
2. Minumlah beberapa jenis suplemen untuk tubuh, seperti susu, madu, atau minuman manis lainya.
3. Jangan langsung tidur setelah sahur, karena bisa membuat perut anda terasa nyeri ketika bangun.
4. Tidurlah secara teratur, tidak terlau lama dan tidak kurang dari 6 jam. Tidur yang terlalu lama akan membuat anda mengalami dehidrasi sehingga bisa menghambat aktivitas anda.
5. Gunakan waktu anda untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat, agar anda tidak merasa bosan.
6. Tidak berfikir terlau berat, karena berfikir membutuhkan energi.
7. Mengurangi olahraga yang menguras keringat, karena cairan dalam tubuh anda hanya terbatas.

Sementara hanya ini yang bisa saya infokan kepada pembaca, semoga bermanfaat.

Kedatangan Islam ke Indonesia dan Proses penyebarannya

BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang Masalah
 Sejarah telah mencatat bahwa semua agama, baik agama samawi atau agama wadl’i disiarkan dan dikembangbiakkan oleh para pembawanya yang disebut utusan Tuhan dan oleh para pengikutnya. Mereka yakin bahwa kebenaran dari Tuhan itu harus disampaikan kepada umat manusia untuk menjadi pedoman hidup.
Para penyebar agama banyak yang menempuh jarak jauh dari tempat tinggal dan kelahirannya sendiri demi untuk menyebarkan dan menyampaikan ajarannya. Misalnya Nabi Ibrahim berhijrah dari daerah Babylonia menuju Palestina,Mesir dan Mekkah. Nabi Musa pulang balik dari Mesir dan Palestina. Nabi Isa hijrah dari Bait Lahm ke Yerussalem dan Nabi Muhammad hijrah dari Mekkah ke Madinah. Para pemeluk agama menyebarkan lagi ke tempat tempat yang jauh secara langsung atau secara beranting (estafet) sehingga agama – agama sekarang telah tersebar ke seluruh pelosok dunia.
Di antara agama-agama besar di dunia ini adalah Yahudi, Nasrani, Islam, Hindu, dan Budha, tetapi yang paling luas dan banyak pengikutnya ialah Nasrani dan Islam. Hal tersebut tentu berhubungan dengan usaha penyiarannya oleh para pemeluknya.
Usaha penyiaran agama pasti menghadapi rintangan, hambatan, gangguan bahkan ancaman yang berat, itulah sebabnya maka kadang-kadang penyiaran suatu agama berjalan lancar, kadang-kadang tersendat – sendat dan mengalami kemacetan walaupun tidak total.
Pengembangan dan penyiaran agama Islam termasuk paling dinamis dan cepat dibandingkan dengan agama – agama lainnya. Termasuk akselarasi dan dinamika penyebaran agama Islam di Indonesia yang akan saya bahas dalam makalah ini.
B.            Batasan Masalah:
1.    Kedatangan Islam ke Indonesia.
2.    Proses penyebaran Islam di Indonesia.
3.    Islam Liberal di Indonesia.
C.           Rumusan Masalah:
1.    Pada abad ke-berapa kedatangan Islam ke Indonesia?
2.    Bagaimana proses penyebaran Islam di Indonesia?
3.    Apa yang dimaksud Islam Liberal?
D.           Tujuan Penulisan:
Makalah ini disusun agar dapat :
1.    Mengetahui kapan Kedatangan Islam ke Indoneia.
2.    Mengetahui proses penyebaran Islam di Indonesia.
3.    Mengetahui maksud dari Islam Liberal.




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Kedatangan Islam Ke Indonesia.
Mula kedatangan Islam di Indonesia telah cukup banyak mendapat perhatian dan telaah para pemikir dan sejarawan dari berbagai kalangan. Berbagai pendapat dan teori yang membincang persoalan tersebut membuktikan bahwa tema Islam memang menarik untuk dikaji, terlebih di negeri yang dikenal mayoritas penduduknya muslim. Maka tak berlebihan, studi mengenai latar historis dan proses perkembangan selanjutnya dari agama ini sehingga beroleh tempat dan mampu mengikat begitu banyak pengikut di wilayah ini– cukup punya nilai guna memahami dan memaknai lebih dalam dinamika keberagamaan Islam dalam konteks kontemporer di Indonesia.
Letak Indonesia yang geografis dan strategis merupakan factor utama yang menyebabkan Indonesia dikenal oleh bangsa-bangsa lain. Selain itu, Indonesia juga mempunyai tanah yang subur yang dapat menghasilkan bahan-bahan keperluan hidup yang dibutuhkan oleh bangsa-bangsa. Agama Islam masuk ke Indonesia dimulai dari daerah pesisir pantai, kemudian diteruskan ke daerah pedalaman oleh para ulama atau penyebar ajaran Islam.
 Mengenai peran perdagangan dan para pedagang dalam mengislamkan Indonesia, dimana pengaruh dan penyebaran Islam sangat efektif sekali. Hal ini disebabkan karena banyak orang yang begitu saja tertarik untuk memeluk agama Islam sebelum mempelajari syari’at agamanya secara rinci dan mendalam. Di tambah pula dengan sikap masyarakat pada umumnya yang tidak suka berfikir lama dan mengadakan pembahasan yang dalam mengenai masalah aqidah, cukup dengan melihat dan mengamati tingkah laku yang diperagakan oleh mereka yang telah memeluk Islam, baik dalam melaksanakan ajaran aqidahnya maupun dapat melaksanakan akhlak dan ajarannya di tengah-tengah masyarakat, mereka sudah tertarik dan ingin memeluk Islam.
Tentang kedatanagan Islam di Indonesia ada beberapa pendapat dari para ahli diantaranya :
  1. Pendapat pertama yang dipelopori oleh sarjana-sarjana orientalis Belanda di antaranya Snouck Hurgronje yang berpendapat bahwa agama Islam datang ke Indonesia pada abad ke-13 M dari Gujarat ( bukan dari Arab langsung ) dengan bukti ditemukannya makam Sultan yang beragama Islam Pertama yakni Malik As-Sholeh, raja pertama kerajaan Samudera Pasai yang di katakan berasal dari Gujarat.
  2. Pendapat kedua di pelopori sarjana-sarjana muslim, di antaranya Prof. Hamka yang mengadakan seminar “sejarah masuknya Islam ke Indonesia” di Medan pada tahun 1963, Hamka dan teman-temannya berpendapat bahwa Islam sudah datang ke Indonesia pada abad pertama Hijriyah (kurang lebih abad ke-7 sampai abad ke-8 M) langsung dari Arab dengan bukti jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional sudah dimulai jauh sebelum abad ke-13. Jalur pelayaran ini melaui selat Malaka yang menghubungkan dengan Dinasti Tang di Cina ( Asia Timur ). Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani Umayah di Asia Barat.
  3.  Sarjana muslim kontemporer seperti Taufiq Abdullah mengkompromikan kedua pendapat tersebut. Menurut pendapatnya  memang benar Islam sudah datang ke Indonesia sejak abad pertama Hijriyah atau abad ke-7 atau abad ke-8 M, tetapi baru di anut oleh para pedagang Timur Tengah di pelabuhan-pelabuhan. Barulah pada abad ke-13 Islam masuk secara besar-besaran dan mempunyai kekuatan politik dengan berdirinya kerajaan Samudera Pasai. Hal ini terjadi karena akibat arus balik kehancuran Baghdad, ibukota Abasiyyah oleh Halugu. Kehancuran Baghdag menyebabkan pedagang muslim mengalihkan aktivitas perdagangan ke Asia Selatan, Asia Timur dan Asia Tenggara.
Sedangkan menurut Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya yang berjudul “ Menemukan Sejarah” mengenai proses masuk dan berkembangnya agama  Islam di Indonesia terdapat tiga teori yaitu : teori Gujarat, teori Mekkah dan teori Persia. Ketiga teori tersebut memberikan jawaban tentang permasalahan waktu masuknya Islam ke Indonesia. Asal negara dan tentang penyebar atau pembawa agama Islam ke Nusantara.
Ketiga teori tersebut, pada dasarnya masing-masing mempunyai kebenaran dan kelemahannya tetapiberdasarkan teori tersebut dapatlah disimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia dengan jalan damai pada abad ke-7 dan mengalami perkembangn pada abad ke-13 M. sebagai pemegang peranan dalam penyebaran agama Islam adalah bangsa Arab,Persia dan Gujarat ( India ).
B.      Proses Penyebaran Islam di Indonesia.
1.            Masuknya Islam ke Indonesia.
 Mengenai proses masuknya Islam ke Indonesia petama kali ialah melalui lapisan bawah, yakni masyarakat sepanjang pesisir utara. Dalam hal ini yang membawa dan memperkenalkan Islam kepada masyarakat Indonesia adalah para saudagar-saudagar muslim baik dari Gujarat maupun dari Arab dengan cara berdagang. Dari hubungan berdagang inilah akhirnya mereka saling mengenal dan terjadilah hubungan yang dinamis diantara mereka. Mereka tidak semata-mata berdagang saja tetapi mereka juga berdakwah menyebarkan agama Islam melalui beberapa cara dan saluran yang akan di bahas pada pembahasan berikutnya.
Pada mulanya proses penyebaran agama Islam masih terbatas pada daerah-daerah pesisir pantai, namun sejak abad ke- 15 kota-kota di dekat pantai baik di Jawa, Sumatera maupun daerah-daerah lainnya berubah menjadi wilayah yang berpenduduk muslim. Dari uraian di atas jelaslah bahwa masuknya Islam ke Indonesia melalui dua jalur, yaitu jalur darat dan jalur laut.
Melalui jalur darat Islam di bawa dari Mekkah melalui Baghdad-Kabul-Kashmir, lalu singgah di Siangkiang diteruskan ke Malaka melalui  daerah pesisir. Sedangkan melalui jalur laut mula-mula Islam disebarkan dari Jeddah menuju Aden ( sekarang Yaman ) terus ke Maskat dan Baisut ( keduanya termasuk daerah Oman ). Dari Oman kemudian ke pantai Malabar terus ke Kodonggalor, Qulam Nali ( Qutan ) dan Kalian, kemudian ke negeri Cyilon dan melalui pantai koromandel ( India )  menuju Saptagrum ( dekat Kalkuta ), menuju Chittagong ( Bangladesh ) dan Akhjab ( Birma ) kemudian dari Birma akhirnya Islam sampai ke Nusantara melalui dua jalur yaitu :
  1. Melaui Malaka, Patani, kanton ( Cina Selatan ), Brunai dan akhirnya sampai di kepulauan Mindanau.
  2. Peurelak, Samudera Pasai, Kuta raja, Lamuo, Barus, Padang, Banten, Jepara, gresik, ujung Pandang, ternate dan Tidore.
2.             Saluran Islamisasi yang Berkembang Di Indonesia
 Kedatangan Islam dan penyebarannya kepada golongan bangsawan dan rakyat Indonesia pada umumnya dilakukan secara damai. Berbeda dengan penyebaran Islam di Timur Tengah yang dalam beberapa kasus disertai dengan pendudukan wilayah oleh militer Muslim. Islam dalam batas tertentu disebarkan oleh para pedagang, kemudian di lanjutkan oleh para guru agama ( Da’i ) dan pengembara Sufi. Orang yang terlibat dalam kegiatan dakwah pertama itu tidak bertendensi apapun kecuali bertanggung jawab menunaikan kewajiban tanpa pamrih.
Apabila situasi politik suatu kerajaan mengalami kekacauan dan kelemahan yang disebabkan perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana, maka Islam dijadikan alat politik bagi golongan bangsawan atau pihak-pihak yang menghendaki kekuasaan itu. Mereka behubungan dengan pedagang-pedagang muslim yang posisi ekonominya lebih kuat karena menguasai pelayaran dan perdagangan. Apabila kerajaan Islam sudah berdiri, penguasanya melancarkan perang terhadap kerajaan non Islam. Hal ini bukan karena persoalan agama tetapi karena dorongan politis untuk menguasai kerajaan-kerajaan di sekitarnya.
Menurut Uka Tjandrasasmita, saluran – saluran islamisasi yang berkembang di Indonesia melalui enam cara, yaitu :
1. Saluran Perdagangan.
Pada taraf permulaan, saluran islamisasi adalah melalui perdagangan, kesibukan lalu lintas perdagangan pada abad ke-7 hingga ke-16 M. membuat pedagang-pedagang muslim ( Arab, persia, dan India ) turut ambil bagian dalam perdagangan dari negeri-negeri bagian barat, tenggara dan timur benua Asia. Saluran islamisasi melalui perdagangan ini sangat menguntungkan karena para raja dan bangsawan turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadi pemilik kapal dan saham.
2. Saluran Perkawinan.
Dari sudut ekonomi, para pedagang muslim memiliki status sosial yang lebih tinggi dan baik daripada kebanyakan masyarakat pribumi, sehingga penduduk pribumi, terutama putri-putri bangsawan tertarik untuk menjadi istri-istri saudagar-saudagar tersebut. Sebelum menikah mereka di islamkan lebih dahulu. Setelah mereka mempunyai keturunan lingkungan mereka semakin meluas dan akhirnya muncul kampung-kampung, daerah-daerah dan kerajaan-kerajaan muslim. Jalur perkawinan ini lebih menguntungkan dan lebih cepat dalam penyebaran agama Islam karena apabila terjadi perkawinan antara anak bangsawan atau anak raja dan adipati, karena mereka adalah orang – orang yang mempunyai kekuasaan dan pengaruh dalam masyarakat dan kemudian turut mempercepat proses islamisasi.
3. Saluran Tasawuf.
Pengajar-pengajar tasawuf, atau para sufi, mengajarkan teosofi yang bercampur dengan ajaran yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Mereka mahir dalam soal-soal magis dan mempunyai kekuatan-kekuatan menyembuhkan. Di antara mereka ada yang mengawini puteri  – puteri bangsawan setempat. Dengan tasawuf bentuk Islam yang di ajarkan kepada penduduk pribumi mempunyai persamaan dengan alam pikiran mereka yang sebelumnya menganut agama Hindu, sehingga agama baru tersebut mudah dimengerti dan diterima. Ajaran mistik ini masih berkembang di abad ke- 19 bahkan di abad ke-20 M ini.
4. Saluran Pendidikan.
Islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan, baik pesantren maupun pondok yang digunakan dan diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiyai-kiyai dan ulama’-ulama’. Di pesantren atau pondok itu calon ulama’, guru, dan kiyai mendapat pendidikan agama. Setelah keluar dari pesantren, mereka pulang ke kampung masing-masingatau berdakwah ke tempat tertentu untuk mengajarkan agama Islam.
5. Saluran Kesenian.
Saluran islamisasi melalui kesenian yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang . dikatakan, Sunan Kalijaga adalah tokoh paling mahir dalam mementaskan wayang. Dia tidak pernah meminta upah pertunjukan tetapi ia meminta para penonton untuk mengikuti mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian besar cerita wayang masih dipetik dari cerita Mahabharata dan Ramayana, tetapidi dalam cerita itu disisipkan ajaran dan nama-nama pahlawan islam. Kesenian-kesenian lain juga dijadikan alat islamisasi, seperti sastera ( hikayat, babad dan sebagainya ), seni bangunan dan seni ukir.
6. Saluran Politik.
Di beberapa daerah di Indonesia kebanyakan rakyat masuk Islam setelah penguasa atau rajanya masuk Islam terlebih dahulu. Pengaruh politik para raja dan penguasa sangat membantu tersebarnya Islam di nusantara ini. Di samping itu kerajaan-kerajaan yang sudah memeluk agama Islam memerangi kerajaan-kerajaan non Islam. Kemenangan kerajaan Islam secara politis menarik penduduk kerajaan bukan Islam itu masuk Islam.
3.             Masa Penyebaran Islam di Indonesia.
1.    Masa Kolonial.
Pada abad ke-17 masehi atau tahun 1601 kerajaan Hindia Belanda datang ke Nusantara untuk berdagang, namun pada perkembangan selanjutnya mereka menjajah daerah ini. Belanda datang ke Indonesia dengan kamar dagangnya, VOC, sejak itu hampir seluruh wilayah Nusantara dikuasainya kecuali Aceh. Saat itu antara kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara belum sempat membentuk aliansi atau kerja sama. Hal ini yang menyebabkan proses penyebaran dakwah terpotong. Politik devide et impera, yang pada kenyataannya memecah-belah atau mengadu domba antara kekuatan ulama dengan adat, contohnya perang Padri di Sumatera Barat dan perang Diponegoro di Jawa.
Mendatangkan Prof. Dr. Snouk Cristian Hourgonye alias Abdul Gafar, seorang Guru Besar ke-Indonesiaan di Universitas Hindia Belanda, yang juga seorang orientalis yang pernah mempelajari Islam di Mekkah. Dia berpendapat agar pemerintahan Belanda membiarkan umat Islam hanya melakukan ibadah mahdhoh (khusus) dan dilarang berbicara atau sampai melakukan politik praktis. Gagasan tersebut dijalani oleh pemerintahan Belanda dan salah satunya adalah pembatasan terhadap kaum muslimin yang akan melakukan ibadah Haji, karena pada saat itulah terjadi pematangan pejuangan terhadap penjajahan.
2.    Masa kemerdekaan.
Sebagian besar ummat Islam di Indonesia berada di wilayah Indonesia bagian Barat, seperti di pulau Sumatera, Jawa, Madura dan Kalimantan. Sedangkan untuk wilayah Timur, penduduk Muslim banyak yang menetap di wilayah Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, dan Maluku Utara dan enklave tertentu di Indonesia Timur seperti Kabupaten Alor, Fakfak, Haruku, Banda, Tual dan lain-lain.
Pengadaan transmigrasi dari Jawa dan Madura yang secara besar-besaran dilakukan oleh pemerintahan Suharto selama tiga dekade ke wilayah Timur Indonesia telah menyebabkan bertambahnya jumlah penduduk Muslim disana. Untuk pertamakalinya, pada tahun 1990an ummat Kristen menjadi minoritas di Maluku. Kebijakan transmigrasi ini, yang telah melebarkan kesenjangan sosial dan ekonomi, mengakibatkan sejumlah konflik di Maluku, Sulawesi Tengah, dan sebagian wilayah Papua.
4.             Arsitektur .
Islam sangat banyak berpengaruh terhadap arsitektur bangunan di Indonesia. Rumah Betawi salah satunya, adalah bentuk arsitektur bangunan yang banyak dipengaruhi oleh corak Islam. Pada salah satu forum tanya jawab di situs Era Muslim,disebutkan bahwa Rumah Betawi yang memiliki teras lebar, dan ada bale-bale untuk tempat berkumpul, adalah salah satu ciri arsitektur peradaban Islam di Indonesia.
Masjid adalah tempat ibadah Muslim yang dapat dijumpai diberbagai tempat di Indonesia. Menurut data Lembaga Ta’mir Masjid Indonesia, saat ini terdapat 125 ribu[4] masjid yang dikelola oleh lembaga tersebut, sedangkan jumlah secara keseluruhan berdasarkan data Departemen Agama tahun 2004, jumlah masjid di Indonesia sebanyak 643.834 buah, jumlah ini meningkat dari data tahun 1977 yang sebanyak 392.044 buah. Diperkirakan, jumlah masjid dan mushala di Indonesia saat ini antara 600-800 ribu buah.
5.             Pendidikan.
Pelajar Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Gambar diambil akhir Januari 2006.
Pesantren adalah salah satu sistem pendidikan Islam yang ada di Indonesia dengan ciri yang khas dan unik, juga dianggap sebagai sistem pendididikan paling tua di Indonesia.Selain itu, dalam pendidikan Islam di Indonesia juga dikenal adanya Madrasah Ibtidaiyah (dasar), Madrasah Tsanawiyah (lanjutan), dan Madrasah Aliyah (menengah). Untuk tingkat universitas Islam di Indonesia juga kian maju seiring dengan perkembangan zaman, hal ini dapat dilihat dari terus beragamnya universitas Islam. Hampir disetiap provinsi di Indonesia dapat dijumpai Institut Agama Islam Negeri serta beberapa universitas Islam lainnya.
6.             Politik.
Dengan mayoritas berpenduduk Muslim, politik di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh dan peranan ummat Islam. Walau demikian, Indonesia bukanlah negara yang berasaskan Islam, namun ada beberapa daerah yang diberikan keistimewaan untuk menerapkan syariat Islam, seperti Nanggroe Aceh Darussalam.
Seiring dengan reformasi 1998, di Indonesia jumlah partai politik Islam kian bertambah. Bila sebelumnya hanya ada satu partai politik Islam, yakni Partai Persatuan Pembangunan-akibat adanya kebijakan pemerintah yang membatasi jumlah partai politik, pada pemilu 2004 terdapat enam partai politik yang berasaskan Islam, yaitu Partai Persatuan Pembangunan, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Bintang Reformasi, Partai Amanat Nasional, Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Bulan Bintang.
7.             Organisasi-Organisasi Islam di Indonesia.
Di Indonesia ada banyak sekali organisasi sosial dan keagamaan Islam. Dari sekian banyak organisasi tersebut, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah adalah organisasi-organisasi yang paling besar.
1)      Nahdlatul Ulama
Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan anggota sekitar 35 juta. NU seringkali dikategorikan sebagai Islam traditionalis, salah satunya karena sistem pendidikan pesantrennya. Pesantren adalah sekolah agama Islam yang dikelola oleh para kiai NU, dan biasanya menyediakan penginapan bagi murid-muridnya. Pesantren pada umumnya mengajarkan cara membaca dan menulis Al-Quran dalam bahasa Arab, menghapal ayat-ayat suci Al-Quran, pelajaran agama Islam lainnya, dan juga ilmu dan pengetahuan umum.
2)      Muhammadiyah
Muhammadiyah merupakan organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia, dengan keanggotaannya sekitar 30 juta. Seringkali dikategorikan sebagai Islam modernis, Muhammadiyah memiliki ribuan sekolah, universitas, dan lembaga pendidikan tinggi serta ratusan rumah sakit di seluruh Indonesia.

8.             Islam Liberal di Indonesia
Islam liberal merupakan gerakan keagamaan yang menekankan pada pemahaman Islam yang terbuka, toleran, inklusif, dan kontekstual. Di Indonesia, penyebaran Islam liberal telah berlangsung sejak awal tahun 1970-an, dengan tokohnya Nurcholish Madjid (Cak Nur). Meskipun belum dikenal sebagai Islam liberal, pemikiran-pemikiran Cak Nur yang sering disebut sebagai pemikiran neomodernisme Islam, menjadi dasar dari pengembangan Islam liberal dewasa ini. Sejak tahun 2001, sejumlah aktivis dan intelektual muda Islam memulai penyebaran gagasan Islam liberal secara lebih terorganisir. Mereka ini kemudian mendirikan Jaringan Islam Liberal.










BAB III
PENUTUP
Kesimpulan :
Dari pembahasan mengenai Kedatangan Islam ke Indonesia dan Proses penyebarannya dapat disimpulkan bahwa :
1.     Kedatangan Islam ke Indonesia menurut beberapa pendapat:
1.         Snouck Hurgronje            : Berpendapat bahwa agama Islam datang ke Indonesia pada abad ke-13 M dari Gujarat.
2.         Prof. Hamka                     : Hamka dan teman-temannya berpendapat bahwa Islam sudah datang ke Indonesia pada abad pertama Hijriyah (kurang lebih abad ke-7 sampai abad ke-8 M) langsung dari Arab.
3.         Taufik Abdullah               : Islam sudah datang ke Indonesia sejak abad pertama Hijriyah atau abad ke-7 atau abad ke-8 M.
2.     Proses penyebaran Islam di Indonesia:
1.         Islam masuk ke Indonesia pertama kali melalui lapisan bawah, yakni masyarakat sepanjang pesisir pantai utara.
2.         Saluran Islamisasi yang berkembang di Indonesia:
1.    Saluran Perdagangan.
2.     Saluran Perkawinan.
3.    Saluran Tasawuf.
4.    Saluran Pendidikan.
5.    Saluran Kesenian.
6.    Saluran Politik.

3.         Masa penyebaran Islam di Indonesia:
1.    Masa Kolonial.
2.    Masa Kemerdekaan.
4.         Arsitektur.
5.         Pendidikan.
6.         Politik
7.         Organisasi-organisasi Islam di Indonesia:
1.    Nadlatul Ulama.
2.    Muhammadiyah.
8.         Islam Liberal di Indonesia.
3.     Yang dimaksud Islam Liberal di Indonesia yaitu gerakan keagamaan di Indonesia yang menekankan pada pemahaman Islam yang terbuka, toleran, inklusif dan kontektual.






DAFTAR PUSTAKA
Harun, Yahya M. Drs. Sejarah Masuknya Islam di Indonesia. Kurnia Kalam Semesta. Jakarta. 1999.
Sunarto, Musyrifah. Sejarah peradaban Islam Indonesia. PT. Grafindo Persada. Jakarta. 2005.
Syukur, Fatah NC. Drs. H M.Ag. Sejarah Peradaban Islam. Fakultas Tarbiyah, IAIN WaliSongo. Semarang. 2008. Cet I.
Yatim,  Badri. Dr. M.A.  Sejarah Peradaban Islam. PT.RajaGrafindo Persada. Jakarta. 2000. Cet X.
Zuhairini, Dra. dan Kawan-Kawan. 2008. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi aksara. Jakarta.

http://sejarawan.wordpress.com/2008/01/21/proses-masuknya-islam-di-indonesia-nusantara/


Morphological Text Sampling Analysis


KOMPAS.COM- Islamic Smartphone with Compass Permanently Pointing to Mecca Launched
Islamic Smartphone with Compass Permanently Pointing to Mecca Launched. An Islamic smartphone has been launched with a compass pointing permanently to Mecca and the Koran already downloaded.
Inventors of the Enmac in India said they focused on religious technology when designing the new phone. And the market is heaving as India has the fastest growing mobile phone users in the world with more than 850 million subscribers including farmers and rickshaw drivers.  Anuj Kanish, who has launched the Enmac in India, told The Telegraph: 'India has around 180 million Muslims and the penetration of mobile phone in that community is less.
But when a compelling product or service is available, it has a potential to increase the number of users. So far, we have had a tremendous response for the product.’ He added: 'Religion has a very important place in Indian society, so has the mobile phone.
Our aim was to bring a device which caters to both the sections, the product is a combination of both technology and religion, the first of its kind in India. 'The Enmac translates the Koran from Arabic into 29 languages, and includes the Hadith sayings of the Prophet Mohammed, and a guide for Indian Muslims on how to perform the Hajj rituals in Mecca and Medina. Mr Kanish said his company had focused on 'religious technology' to help customers with busy lives 'remain connected with God.'
                                                                                                        


Keterangan:                            
Lexical morpheme:                  Fuctional morpheme:
Red: noun                               Brown: Articles
Green: adjective                      Orange: demonstratives
Blue: preposition                     Pink: Pronouns
Yellow: Verb                          Green: Conjunction
Purple: adverb















CHAPTER I
INTRODUCTION
As we know, morphology has pivotal role in the field of  linguistic. It has fundamental role which is chained  with the other branches of linguistic, but what is morphology itself? In brief  morphology is the study of internal structure of word (Katamba, 1994). Furthermore, there are some linguists that defined morphology with different definition, but actually it has same meaning. The example is the definition of Wardhaugh (1977), he defined morphology as the study of morpheme and their combination in words. On the other hand, Crystal(1992) identified morphology as the study of  morphemes, their variation, and their combination in words. Thus, we can conclude that morphology is the branch of linguistic (scientific study of language) that study about internal structure of word, that concern in morphemes, their combination, and their variation ; or how word can be constructed and built.
On the other hand, morphology had built its own part in the history of linguistic field. Early in the nineteenth century, morphology played pivotal role in reconstruction Indo-European. Later, morphology got the second wind when the Darwin’s theory, the theory of evolution, spread in western morphology also got the impact. Morphology was viewed as a means to reconstruct the origin of human language. By the time, the development of morphology reached the modern era of human civilization. Instead it is gone, morphology still exist and gives it role in linguistic. Its development has not found its end. Factually, this discipline, agree or nor, becomes a gate to learn more about language itself.
After we have known the definition and the development of morphology, we can have a conclusion that morphology is an important means to learn language more. It is not only a discipline that stug and does not develop, it is a kind of scientific study that has grown day by day. Thus, it is important for us to learn more about morphology. By extension, the term ‘morphology’ is used not only for the study of the shapes of words but also for the collction of units which are used in chaging the forms of words. Morphology is also used for the sequence of rules which are postulated by the linguist to sccount for to changes in the shapes of words.
In this paper, I will research the morphological phenomena on a news from electronic newspaper.

CHAPTER II
DISCUSSION
I.     MORPHEME
Morpheme is the smallest difference in the shape of a word that correlates with the smallest difference in word or sentence meaning or in grammatical structure. (Katamba, 1994)
Morphemes can be divided into two general- classes. Every morpheme can be slassified as either free and bound.
a.       Free morphemes, that is morpheme which can stand by themselves as single morpheme.
George Yule(1985:60) menyatakan bahwa morfem bebas adalah morfem yang dapat berdiri sendiri sebagai suatu kata.
There are kind of free morpheme:
a.       Noun
b.      Adjective
c.       Preposition
d.      Adverb
Table of free morpheme on the text:
1.      Lexical morpheme:
Lexical morpheme:
Paragraph 1
Paragraph
2
Paragraph
3
Paragraph
4
Noun
The first sentence: Compass,
The second sentence:  compass, Koran.

The first sentence:  Enmac, technology, new, phone.
The second sentence: more, mobile phone, market, rickshaw.
The third sentence: Anuj Kanish, Enmac, Telegraph, India, penetration, mobile phone, community.
 The first sentence: product, available, potential.
The second sentence: tremendous, response, product.
The third sentence: increase, Religion, society, place, mobile phone.
The first sentence: aim, first, device, kind, product, combination, technology, religion.
The second sentence: Enmac, Koran, Arabic, language, Hadith, Prophet, Mohammed, guide, Hajj.
The tird sentence: Mr. Kasnish, company, technology, remain.
Adjective
The first sentence: -
The second sentence: -
The first sentence: -
The second sentence: -
The thirth sentence: less.
The first sentence: -
The second sentence: far.
The thirth sentence: important.
The first sentence: both.
The second sentence:-
The third sentence: busy.
Preposition
The first sentence: with, to.
The second sentence: with, to.
The first sentence: of, in, on.
The second sentence: in, with.
The thirth sentence: in,  of, in,
The first sentence: to, of.
The second sentence: for.
The thirth sentence: in.
The first sentence: to, to, of, of, in.
The second sentence: from, into, of, for, on, to.
The third sentence: on, to, with, with.
Verb
The first sentence: -
The second sentence: -
The first sentence: -
The second sentence: -
The third sentence: -

The first sentence: service.
The second sentence: so, have.
The third sentenece: so.
The first sentence: bring.
The second sentence: perform.
The third sentence: help.
Adverb
The first sentence: Mecca
The second sentence: Mecca
The first sentence: India.
The second sentence: world, India.
The third sentence: India, around.
The first sentence: -
The second sentence: -
The thirth sentence: -
The first sentence: India.
The second sentence: Mecca, Medina.






2.      Functional morpheme:
Functional morpheme:
Paragraph 1
Paragraph 2
Paragraph 3
Paragraph 4
Articles
The first sentence: -
The second sentence: An, a, the.
The first sentence: the, the.
The second sentence: the, the, the.
The third sentence: the, the.
The first sentence: a, a.
The second sentence: a, the.
The thirth sentence: a, the.
The first sentence: a, the, the, a, the.
The second sentence: The, the, the, the, a, the,
The third sentence: -
Demonstratives
The first sentence: -
The second sentence: -
The first sentence: -
The second sentence: -
The thirth sentence: that.
The first sentence: -
The second sentence: -
The thirth sentence: -
The first sentence: -
The second sentence: -
            

Pronouns
The first sentence: -
The second sentence: -
The first sentence: they.
The second sentence: -
The third sentence: who.
The third sentence: he.
The first sentence: our, which, its.

Conjunctions
The first sentence: -
The second sentence: and.
The first sentence: when.
The second sentence: and, than, and.
The third: and.
The first sentence: But, when, or.
The second sentence: -
The thirth sentence: -
The first sentence: and, The second sentence: and, and, and.


b.      Bound morpheme:
According to wikepedia, In morphology, a bound morpheme is a morpheme that only appears as part of a larger word; a free or unbound morpheme is one that can stand alone.
That is those which can not normally, stand alone, but which are typically attached to another from, e.g, re, -ist, -ad, and –s.
a.       Derivational morpheme, when combind with a root, change either the semnatic meaning or part of speech of the affected word.
b.      Inflectional morpheme, modify a verb tense or noun’s number without affecting the words meaning or class.
Finding :
Bound Morphemes:
On the text:
Derivatinal morphemes
1. Islamic: Islam+ ic
Adj: Noun+ suffiex (ic)
1.   Permanently: Permanent+ ly
Adj: Noun+ suffiex (ly)
2.   Religious: religion+ us
Adj: Noun+ suffiex
3.    Focused: focus + ed
Adverb: noun + suffiex(ed)
4.    Designing: design + ing
Verb: noun + suffiex(ing)
5.    Compelling: compel +ing
Adj: adverb + suffiex(ing)
Infceltional morphemes
Pointing, launched, downloaded, inventors, said, heaving, fastest, growing, users, subscribers, including, farmers, drivers, told, muslims, added, caters, sections, translates, languages, includes, sayings, Indian, muslims, rituals, said, religious, customers, lives, connected.



II.  AFFIXATION
According to wikepedia, Affixation is, thus, the linguistic process speakers use to form different words by adding morphemes (affixes) at the beginning (prefixation), the middle (infixation) or the end (suffixation) of words.
Kinds of affixes:
1.      Prefixes, a prefixes is an affix attached before a root or base.
2.      Suffixes, is an affix attached after a root or stem or base.
Finding, I can find a lot of words that include suffixes:
Islamic. Permanently, Religious, Arabic, Indian, Pointing, launched, already, downloaded, inventors, said, focused, religious, designing, heaving, fastest, growing, users, subscribers, including, farmers, drivers, told, muslims, compelling, added, Indian, caters, sections, translates, Arabic, languages, includes, sayings, Indian, muslims, rituals, said, religious, customers, lives, connected.
III. PHONOLOGICAL CONDITIONING
According to wikipedia, Phonological conditioning is a certain form of conditioning, where the choice of allomorphs is sensitive to the phonological context and can be predicted from it (e.g. regular plural suffix in English).
Normally, the plural morpheme is realized by a phonologicallly conditioned allomorph whose distribution is stated in explanation below.
a.       Select allomorph /-iz/ if a noun ends in an alveolar or alveo-palatal sibilant (i.e.a consonant with a sharp, hissing sound such as /s z Æ’ з tÆ’ dз/
Finding:
Translates     /trænsleitiz/
Languages   /læŋgwıdзjiz/
Includes       /in’klu:diz/
Lives            /liviz/
b.      Select allomorph /-z/ elsewhere (i.e if the noun ends in a voiced non- strident segment; this includes all vowels and consonants /b d g m n l r w j/)
Finding:
Inventors     /in’ventÉ™rz/
Users            /yuwzÉ™rz/
Subscribers  /sÉ™b’skraibÉ™rz/
Farmers        /farmÉ™rz/
Drivers         /draivÉ™rz/
Caters          /keitÉ™rz/
Customers    /kΛstÉ™mÉ™rz/
Sayings        /seingz/
Muslims       /mΛslÉ™mz/
Sections       /seksyÉ™nz/
Rituals         /ricuÉ™lz/
IV.             GRAMATICAL CONDITIONING
According to wardhaugh, the choice of allomorph may be grammatically conditioned, i.e. it may be dependent on the presence of a particular grammatical element. A special allomorph may be required in a given grammatical context although there might not be any good phonological reason for its selection.
Finding:
Pointing,                 from point /pÉ”intin/ to pointing /pÉ”inting/
Launched,              from launch /lÉ”:ntÆ’/ to launched /lÉ”:ntÆ’t/
Downloaded          from download /daÊŠn’ləʊd/ to downloaded / daÊŠn’ləʊdet/
Said                                    from say /seɪ/ to said /sed/
Focused                  from focus /fəʊkÉ™s/ to focused /fəʊkÉ™st/
Designing               from design /di’zain/ to designing /di’zaining/
Heaving                  from heave /hiev/ to heaving /hieving/
Growing                 from grow /grəʊ/ to growing /grəʊ/
Including                from include /in’klu:d/ to including /in’klu:d/
Told                        from tell /tel/ to told /towld/
Compelling             from compel /kÉ™m’pÉ™l/ to compelling /kÉ™m’pÉ™l/
Connected              from connect /kÉ™nekt/ to connected /kÉ™nektet/
V.      LEXICAL CONDITIONING
A rule of suppletion or lexical conditioning only applies if a form is expressly marked as being subject to it.
VI.   WORD FORMATION
In linguistics, word formation is the creation of a new word. Word formation is sometimes contrased with semantic change, which is a change in a change in a single word’s meaning.
Word formation consist of coinages, borrowing and compounding:
a.       Coinages
Coinages is the word formation process in which a new word is created either deliberately or accidentally without using the other word formation processess and often from seeningly nothing.
b.      Borrowing
Borrowing is the word formation process in which a word one language is borrowed directly into another language.
c.       Compounding
Compounding is the word formation process in which two or more lexemes combine into a single new word.
Finding:
1.      Subscribers:          Sub                  +          scribers (scribe + s)
Noun               +          noun
Kapal selam     +          ahli menulis (jamak)
Subcribers can be the other meaning, that is ‘langganan’.
2.      Increase:   in                     +          crease
preposition      +          noun
Dalam              +          lipatan
Increase can be the other meaning, that is ‘pertambahan’
VII.          BACK FORMATION
A very specialized type of reduction process is known as back formation.
VIII.       CONVERSION
In linguistics, conversion also called zero derivation, is a kind of word formation; specifically, it is the creation of a word from an existing word without any change in form.
IX.             MULTIPLE PROCESS
According to Yule(1990), multiple processes is word-formation processes in isolation, it is possible to trace the operation of more than one process at work in the creation of a particular word.



Finding:
No.
Word on the text
First prosses
Second prosses
1.
Sibscribers
Compounding
Affixation (suffiex)
Sub  (kapal selam) + scribers (ahli menulis)
Subcriber + s
Noun                     +  noun
Noun       + suffiex

X.      ACRONYMS
According to Yule, acronym are new words formed from the initial letters of a set of other words.
Finding: -
XI.             BLENDING
Blending is the combining of two separate forms to producea a single new term is also present in the prosses.
Fnding: -
XII.          CLIPPING
The element of reduction which is noticable in blending is even more apparent in the prosses described as clipping.
Clipping mainly consist of the following types:
1.      Back clipping
2.      Force clipping
Force- clipping or apharesis retains the final part.
3.      Middle clipping
4.      Complex clipping
Finding:
Force clipping:
Phone (telephone)
Com (comercial)
XIII.       WORD CLASS
a.       Verb
A verb, from the Latin verbum meaning word, is a word (part of speech) that in syntax conveys an action, or stage of being.
Verb can be classified into:
a.       Transitive verb
Transitive verb is verb which need and object or complement in a sentence.
b.      Intransitive verb
Intransitive verb is verb which does not need the existence of objects or complement.
Finding:
a.       Tarnsitive verb
Pointing, downloaded, said, heaving, told, heaving, compelling, increase, bring, translates,
b.      Intransitive verb
Launched, focused, added
Pointing, Launched, downloaded, said, focused, heaving, told, compelling, increase, added, bring, translates, sayings, perform, help, connected.
b.      Noun
In english, noun may be defined as those words which can occur with articles and atributive adjectives and can function as the head of a noun phrase.
Noun can be devided into concrete noun abstract noun and concrete noun:
a.       Abstract noun:
Abstract noun is an invisible noun, it can not be identified by human senses.
b.      Concrete noun:
Concrete noun is a visible noun, it means the noun that can be identified by human senses.
Finding:
a.       Abstract noun
Religious, penetration, service, available, potential, tremendous, response, aim, device, first, kind, Religion, God.
b.      Concrete noun
Smartphone Compass Koran Enmac technology phone market mobile phone Anuj Kanish, Telegraph community product Arabic languages, Hadith Prophet Mohammed guide Hajj company customers remain Muslims.
c.       Adverb
Adverb is one of the parts of speech which has role to complete verb in sentence.
Kinds of adverb:
a.       Adverb of time
Adverb of time is adverb which is used to show the existence of time in a sentence.
b.      Adverb of place
Adverb of place show the condition of place in a sentence.
c.       Adverb of manner
Advebs of manner are often formed by adding –ly to adjective.
Finding:
a.          Adverb of time: -
b.         Adverb of place: in Mecca, in Medina, in India
c.          Adverb of manner: permanently
d.      Preposition
Preposition allow to us about the way in which two parts of a sentence are related to each other.
Finding:
With, to, of, on, in, for.
e.       Adjective
Adjective is a describing wordsl the main syntactic role of which is to quality a noun or noun phrase, giving more information about the object signified.
Finding:
Less, far, important, both, busy
f.       Pronoun
Pronouns are usually treated as special sub-class of nouns.
Pronoun can be classified into there main pattern, they are:
a.       Personal pronoun
Personal pronoun has two cases, subjective and objective case
b.      Possessive pronoun
Possessive pronoun is used to show possessive case. It also has two cases:
As the adjective
As the pronoun
Finding:
a.       Personal pronoun               : He, We
b.      Possessive pronoun           :
As the adjective    : Our
As the pronoun      : His
g.      Conjunction
Conjunction it would be very unusual for anyone to either speak or write completely in simple sentences: instead we tend to users mixture of simple, compound and complex sentence.
Finding:
And, when, but, or.
h.      Determiner
The determiner class is one of the structure classes that sirradle the line between a word class and a function.
i.        Qualifier
Qualifier in English though some of these words have other functions as well.
Finding:
More, kind in, very.
j.        Interjection
Interjection is a word used to express an emotion or sentiment on the part of the speaker (although most interjections have clear definitions).
Finding: -














CHAPTER III
CONCLUSION
  1. Conclussuion
From those discussions above, we can conclude that morphology has an important role in modern linguistic field. Morphology itself is the study of word structure, while here are the more conclusions:
  1. Morpheme is the minimal element or the smallest unit of grammatical function which words are made of and it also has a meaning.
  2. Word is a single unit of language that carries an idea, though abstract or concrete.
  3. Affixation is a morphological process by adding an affix or affixes to a morpheme or morphemes.
  4. An allomorph is a variant of a morpheme which occur certain definable environment
  5. .Word formation is a process to create a new word.
  1. The Benefit of the Paper
In this paper we can see that learning morphology is not something horrible, because we can learn more about morphology  in many ways. Include, look for the simple text.